Iwan Setiawan

Web & graphic designer, illustrator

Love digital design, follow me @intraktives

Sejak Ethan Marcotte menulis pertama kali artikel tentang konsep dan implementasi responsive web design (RWD) tahun 2010 di A List Apart responsive web design menjadi trend besar sampai sekarang. Sejak itu responsive web design menjadi kata sakti di kalangan web designer, dibicarakan secara luas dan menjadi hot topic bahkan sampai sekarang. Hampir - hampir setiap pembicaraan tentang website selalu ikut membicarakan responsive web.

intraktive.com

Illustration by Intraktive

 

Kondisi Terkini

Sebagai alternatif agar halaman website bisa tampil optimal di mobile device dengan berbagai ragam resolusi seperti smart phone, tablet dan tentu saja desktop , bisa dikatakan responsive web design masih menjadi pemenang dibandingkan mobile web. Dengan besarnya dorongan kepada RWD membuat hampir semua pihak merasa perlu untuk mengadopsinya.

Pemilik brand besar di bidang fashion, ecommerce, otomotif, sport mulai mengadopsi RWD pada web mereka dengan harapan bisa menjangkau calon konsumen lebih luas, mampu meningkatkan conversion rate. Para web designer pun segera mengupgrade skill mereka dalam implementasi RWD, kalau tidak mereka akan kehilangan client atau pekerjaan. Para penyedia web template pun tak menunggu lama membuat template mereka menjadi responsive. Google pun tidak ketinggalan ikut mengkampanyekan RWD design dan menjadikannya sebagai strategi pengembangan. Begitu pula Facebook akan memprioritaskan lebih pada versi mobile daripada desktop untuk produk mereka. Tak lama kemudian bermunculan responsive design framework berbasis CSS dan Javascript seperti Bootstrap dan Foundation diantaranya, yang ikut menambah dinamika RWD.

 

Keunggulan

Satu Sumber

“Satu website, satu basis kode yang melayani berbagai device”, itulah yang menjadi salah satu jargon penting bagi implementasi RWD. Apapun device yang dipakai, resolusi yang digunakan pengguna saat mengakses website tersebut hasilnya optimal, usabilitynya terjaga, pengguna mendapatkan user experience yang baik. Memiliki dua versi website, versi desktop untuk melayani pengguna desktop dan versi mobile (yang alamat domainnya diawali dengan huruf m*) untuk melayani pengguna mobile device seperti smartphone dan tablet tentu tidak efisien dari sudut administrasi, pengelolaan, efektifitas kerja. Bisa dibayangkan bila dua versi web tersebut ditangani oleh dua tim yang berbeda, tentu bukan pekerjaan mudah melakukan sinkronisasi kedua tim untuk mendapatkan hasil maksimal. Mengapa tidak cukup dengan satu website yang responsive yang bisa melayani semua device, smartphone, tablet dan desktop.

 

Rekomendasi Google

Google secara eksplisit merekomendasikan RWD sebagai opsi design. Mungkin bagi Google banyak keuntungan yang mereka dapatkan dengan RWD. Secara logis tentu lebih memudahkan search engine melakukan tugasnya yakni cawling konten dan indexing dari URL dan HTML yang sama daripada URL yang berbeda dan HTML yang berbeda. Dengan RWD juga ikut membantu SEO bekerja secara optimal, sehingga semua pengunjung bisa diarahkan ke satu website tanpa harus terpisah-pisah antara versi desktop dan versi mobile.

Sumber webbymonks

Biaya

Memiliki website yang terpisah, yakni versi desktop dan versi mobile jelas membutuhkan biaya lebih daripada satu website. Biayanya tidak hanya berkaitan dengan biaya pengembangan, namun juga biaya maintenance, updating konten.

 

Trafik Bertambah

Dengan RWD besar kemungkinan website mengalami peningkatan trafik, karena semakin banyak mereka yang memiliki smartphone dan tablet dan semakin banyak pula yang mengakses web dari smartphone dan tablet mereka. Sampai dengan data januari 2015 trafik yang berasal dari mobile (smartphone dan tablet) di 240 negara telah melampaui angka 39%. Dengan fenomena ini bagi pemilik blog berarti semakin banyak pembaca blog mereka, bagi mereka yg menjual produk berarti semakin luas pangsa pasar produk mereka, bagi pemilik brand akan semakin besar penetrasi brand mereka ke calon konsumen.

 

Kelemahan

Kompleks

Mendesain website agar responsif membutuhkan pekerjaan yang lama dan kompleks, web designer harus membangun semua kode CSS untuk semua desain yang ada di halaman website mulai dari bagian besar seperti banner, header, konten sampai bagian kecil dan detil seperti jarak antar teks, jarak image dengan teks, menu untuk tampilan smartphone dan masih banyak lagi. Mengerjakan responsive web seperti sebuah pekerjaan yang tak ada habisnya, itu bila kita kerjakan tanpa dibantu CSS framework seperti Bootstrap atau Foundation. Namun dibantu dengan CSS framework sekalipun tidak otomatis pekerjaan menjadi lebih mudah, apalagi bila butuh inovasi dari desain “biasa” yang diberikan framework.

 

Butuh Koneksi Bagus

Koneksi internet berkecepatan tinggi (broadband) masih menjadi masalah sebagai syarat agar user experience maksimal bagi pengguna dengan mobile device. Mereka pengguna desktop memiliki koneksi internet yang lebih baik dengan broadbandnya dibanding mobile internet bagi pengguna mobile device. Performa website tentu menjadi hal penting bagi pengguna untuk memutuskan apakah tetap pada website tersebut atau berpindah meninggalkan website tersebut. Koneksi mobile internet tidak bisa memberikan performa website yang bagus bagi pengguna mobile device saat mengakses web yang responsif, sementara apa yang mereka download dari website yang responsif tersebut sama dengan yang dilakukan oleh pengguna desktop. Tampilan visual responsive web yang tampak ramping di mobile device, dengan image yang kecil dibandingkan bila kita akses di versi desktop tidak berarti ukuran filenya jauh berbeda , seringkali keduanya memiliki perbedaan kecil dalam hal ukuran file.

 

Biaya Membengkak

Membuat web agar responsif membutuhkan waktu tidak sedikit karena memang agak kompleks, untuk itu perencanaan haruslah bagus di depan.Tahap demi tahap dalam proses pembuatan dari sketch, wireframing, mockup, komunikasi dengan client harus bisa berjalan dengan baik. Karena permintaan perubahan dari client di luar apa yang didesain dari awal pada saat produksi sudah berjalan berarti menambah pekerjaan menjadi lebih kompleks. Hal ini berpotensi mempengaruhi perubahan ke seluruh tampilan mulai dari desktop sampai ke smartphone.

Kompleksitas dan jam kerja yang lebih banyak ini tentu berdampak pada biaya yang lebih besar yang harus ditanggung.

 

Kesimpulan

Perkembangan teknologi adalah keniscayaan, dengan perkembangan teknologi akan ada metode, proses, produk, kebiasaan menjadi berubah, usang dan ditinggalkan. Tidak terkecuali mereka yang bergelut di dunia web design, perkembangan teknologi mobile device memberii imbas berupa lahirnya metode, proses, produk baru di dunia web.

Dengan adanya mobile device yang internet-enabled, kecenderungan pengguna mobile device mengkonsumsi informasi lebih banyak dari mobile device mereka daripada desktop yang kemudian melahirkan ide responsive web design. Berbagai ulasan telah dilakukan berkaitan dengan RWD baik dari sisi kelebihan dan kekurangannya. Apakah RWD hanya trend atau sebaliknya oleh berbagai kalangan disebut it's the future? Kita tidak pernah tahu, namun tampaknya dari pilihan yang ada RWD bisa dijadikan solusi dan bagi para web designer sulit untuk tidak menyarankan skill update, pengetahuan, wawasan tentang RWD.