Iwan Setiawan

Web & graphic designer, illustrator

Love digital design, follow me @intraktives

Lima tahun terakhir pekerjaan website menuntut lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan diluar pekerjaan utamanya, seperti SEO, content, social media. Beberapa tahun belakangan sering kita jumpai satu istilah yang begitu santer berkaitan dengan web yaitu User Interface / User Experience Designer yang populer disebut UI/UX Designer

 

Illustration by Intraktive

 

User Experience

Para expert berpendapat kehadiran UI/UX Designer ternyata tidak bisa lagi diabaikan bila memang pengguna (user) menjadi perhatian kita, bila pengguna (user) menjadi faktor penting dan utama untuk membangun web/aplikasi yang konsumennya adalah pengguna. Dalam konteks web/aplikasi, user experience intinya adalah pengalaman di sisi pengguna saat berinteraksi dengan interface (antar muka). Apa yang dirasakan oleh pengguna saat interaksi tersebut berlangsung, seperti perasaan senang, kemudahan yang dirasakan, perasaan puas setelah berinteraksi, perasaan puas karena web/aplikasi memberi solusi terhadap permasalahan yang dimiliki pengguna, dan perasaan positif lainnya. Mungkin justru sebaliknya perasaan negatif yang didapat pengguna, misalnya web/aplikasi justru membingungkan pengguna dalam pemanfaatannya, web/aplikasi menyita waktu mereka saat mencari apa yang mereka butuhkan, pengguna “tersesat” di dalam website tanpa diberikan petunjuk dimana mereka berada.

 

Tahapan Pekerjaan

Tugas utama dari UX designer adalah memaksimalkan perasaan positif pengguna saat berinteraksi dengan web/aplikasi tersebut, lantas seperti apakah kongkritnya tugas dari UX designer? Berikut tahapan pekerjaan dari UX designer secara umum :

 

  1. Riset

    Pada fase ini UX designer akan mengumpulkan data seputar client yang berkaitan dengan budget dari client, bisnis yang dijalani, tujuan client, user mereka, kompetitor mereka.
  2. Analisis

    Tujuan dari tahap analisis adalah mengambil wawasan dari data yang terkumpul selama fase riset. Dari analisis ini akan diketahui profile pengguna dari web/aplikasi yang akan dibuat, mengapa pengguna menggunakannya dan bagaimana mereka memanfaatkannya. Selanjutnya dari tahap ini akan diputuskan design seperti apa yang sesuai dengan pengguna.
  3. Design

    Bermodalkan hasil analisis data tentang pengguna UX designer mulai memanfaatkan wireframe, prototype untuk membuat web/aplikasi tersebut. Proses design akan mengalami beberapa pengulangan (iterasi), karena pada tahap ini akan ada masukan pada design yang selanjutnya akan di implementasikan ke dalam design dalam bentuk revisi.
  4. Produksi

    Pada tahap design web/aplikasi masih berbentuk wireframe (kerangka design), belum ada warna, tipografi, image atau dinamakan low fidelity . Pada tahap produksi inilah wireframe tersebut disempurnakan dengan memberi warna, tipografi, image dan elemen design lainnya sehingga didapatkanlah final design yang dinamakan high fidelity yang selanjutnya akan dikembangkan menjadi web/aplikasi.

 

Riset

Sekilas dari 4 tahapan di atas tidak ada perbedaan dengan tahap pengerjaan yang dilakukan web designer pada umumnya. Namun bila diperhatikan secara seksama dalam tahapan tersebut ada tahap riset yang mana tidak ada dalam tahap pengerjaan website secara umum. Riset, analisis dan pengumpulan data ini berkaitan dengan pengguna. Artinya faktor pengguna (user) menjadi bagian penting dan utama dalam proses design berkaitan dengan user experience. Faktor pengguna inilah yang selama ini diabaikan dalam proses design web/aplikasi. Melalui riset UX designer akan mendapatkan informasi penting seputar pengguna dan menjadi modal pengambilan keputusan bagi UX designer untuk design yang akan dikerjakan.

 

(Gambar 1)

Proses iterasi dalam implementasi design, Rujukan UX Design: Foundations for Designing Online User Experiences oleh Jesmond Allen dan James Chudley

 

User Interface

Salah satu yang disentuh oleh UX designer adalah user interface (UI).UI berkaitan erat dengan user experience karena pengguna berinteraksi dengan UI dan mendapatkan pengalaman (experience) dari interaksi tersebut. Sehingga seringkali user experienceprofessional menyematkan dirinya sebagai UI/UX designer. Berkenaan dengan user experience seperti apa yang diinginkan maka UX designer akan menentukan seperti apa user interfacenya. Katakan client ingin membuat website yang menjual furnitur bergaya klasik maka user interface akan disesuaikan dengan tema klasik tersebut dari aspek warna, tipografi dan elemen design lainnya. Dengan demikian experience yang didapatkan pengguna akan “nyambung”. Namun dalam hal ini UI hanya salah satu aspek dari UX karena UX mencakup lebih dari sekedar UI.

 

Pengguna

User experience berkaitan dengan persepsi pengguna seperti estetika, emosi dan variabel subyektif lainnya saat menggunakan web/aplikasi. Disini UX designer memiliki peran untuk membuat pengguna terikat dengan pengalaman yang didapatkan saat menggunakan web/aplikasi tersebut. Dalam keputusan design UX designer tidak mengimplementasikan apa yang dia anggap bagus atau apa yang disuka client, namun apa yang dibutuhkan oleh pengguna. Untuk itu dalam proses pengerjaannya UX designer melibatkan calon pengguna untuk mendapatkan informasi berkaitan dengan design yang telah dikerjakan. UX designer menggunakan beberapa metode untuk mendapatkan wawasan dari calon pengguna berkenaan dengan design yang telah mereka kerjakan seperti interview, survey, user testing. Setelah mendapatkan wawasan dari pengguna maka UX designer akan merevisi design yang ada, selanjutnya akan mengujinya kembali. Proses ini akan terjadi secara berulang (iterasi) sampai tujuannya tercapai. Proses tersebut bisa dilihat di (Gambar 1).

 

Data

UX designer dalam proses pengambilan keputusan design tidak berdasarkankan asumsi dan penilaian subyektifnya namun berdasarkan user data. Katakan dalam proses awal keputusan harus diambil berdasarkan asumsi atau penilaian subyektif namun asumsi atau penilaian subyektif tersebut selanjutnya akan diuji ke pengguna. Sehingga setiap keputusan adalah valid. UX designer harus tahu siapa pengguna web/aplikasi tersebut, segmen umur, lokasi, bagaimana mereka menggunakan web/aplikasi tersebut, mengapa mereka menggunakannya. Dengan kata lain UX designer harus mengetahui perilaku (behaviour) dari pengguna web/aplikasi tersebut. Data penting ini selanjutnya akan digunakan oleh UX designer dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan design secara luas mulai dari warna, tipografi, style, layout, pengaturan content, proses check in/check out (ecommerce), dan banyak lagi.

 

Kesimpulan

UX designer adalah pekerjaan yang dalam prosesnya pengambilan keputusan designnya berdasarkan atas data pengguna (user data) bukan atas selera, asumsi, perkiraan subyektif pribadinya, karena tugas dari UX designer adalah memaksimalkan pengalaman positif pengguna saat berinteraksi dengan web/aplikasi yang mereka buat. Untuk itu UX designer tidak lepas dari riset, survei, analisis, user testing dan berbagai metode pengumpulan data lainnya dengan tujuan mendapatkan informasi seputar pengguna.

Apa saja kompetensi yang dituntut dari seorang UX designer? Akan saya ulas pada artikel selanjutnya.