Iwan Setiawan

Web & graphic designer, illustrator

Love digital design, follow me @intraktives

Mendesain web sehingga memiliki nilai usability tinggi bukanlah perkara mudah. Si desainer harus mampu melihat dari sudut pandang kebutuhan pengguna, bukan atas kebutuhan desainer atau atas kebutuhan pemilik. Semua proses desain yang dilalui haruslah berorientasi pada kemudahan bagi pengguna

Mulai dari ukuran font, background warna, layout, letak logo, posisi fasilitas pencarian (search), link, semua didesain dengan orientasi pada pengguna. Ketidakmampuan dalam menerapkan elemen-elemen usability pada website bisa berdampak pada kunjungan pengguna ke website tersebut .Pada artikel ini saya mencoba memberi beberapa contoh masalah usability (kebergunaan) yang sering kita temui pada web.

 

1. Readability

Tujuan utama pengguna mengakses web adalah mencari informasi yang ada di web yang salah satu contentnya berupa teks. Dengan demikian pastikan pengguna mudah dan cukup nyaman dalam membaca teks content. Pastikan ukuran font yang digunakan tidak terlalu kecil, teks cukup jelas terbaca tanpa terganggu dengan warna background atau grafis yang sering dijadikan background.

Kasus yang sering ditemui berkaitan dengan readability :

  • font yang terlalu kecil sehingga sulit dibaca
  • warna teks tampak pucat dibandingkan dengan background (low contrast)
  • warna background yang mengganggu body text
  • background grafis pada body text yang mengganggu readability

 

pomona.edu

Pada website ini bisa dilihat bagaimana warna body text tampak pucat (low-contrast) sehingga teks tidak mudah dan kurang nyaman untuk dibaca.

 

2. Konvensi/Kebiasaan

Website adalah media yang telah berkembang lebih dari satu dekade. Dalam kurun waktu satu dekade ini tentu telah terbentuk banyak kebiasaan yang terimplementasi dalam web desain. Kebiasaan dalam web design menjadikan web familiar bagi penggunanya. Hal ini akan memudahkan pengguna dalam memanfaatkan web tersebut, pengguna sudah tahu elemen-elemen yang ada, tahu mana yang merupakan link atau bukan, dan tahu apa yang ditampilkan oleh web bila mengklik suatu link.

Beberapa kebiasaan yang diimplementasikan pada web design :

  • link berwarna biru atau warna lain selain hitam atau ditandai dengan underline
  • button tidak digunakan sebagai link
  • letak menu utama berada di bagian atas halaman
  • letak logo berada di pojok kiri atas halaman

 

3. Content Kurang Penting

Seringkali pemilik web ingin memasukkan semua informasi ke dalam web mereka. Tidak jarang kita temui di suatu web ada informasi tentang sejarah perusahaan, nama pegawai perusahaan/instansi, struktur organisasi, visi dan misi perusahaan. Sehingga web dipenuhi oleh content yang sebenarnya tidak perlu bagi pengguna dan tidak punya manfaat langsung bagi pengguna/calon client

Sebuah perusahaan konsultan dimana web yang mereka punya adalah alat marketing di internet hendaknya mengintensifkan content yang bisa mendorong ketertarikan calon client. Mengungkapkan keahlian, kredibilitas dan kemampuan mereka sebagai penyedia jasa. Bukan justru menghadirkan content yang tidak ada kepentingannya dengan calon client.

 

accenture.com

Pada website ini ada content yang isinya orang-orang yang berada di board of director perusahaan tersebut, content seperti ini tentu tidak ada manfaatnya langsung kepada pengguna.

 

4. Pop up Iklan

Pop Up yang muncul sekonyong-konyong saat kita mengakses sebuah web sangatlah mengganggu. Pop up ini memaksa pengguna mengklilk close button sebelum bisa mengakses content yang diinginkan. Hal ini memperlambat user untuk bisa mengakses content yang diinginkan dan tentu mengganggu kenyamanan pengguna.

 

detik.com

Pada website ini kita disambut dengan iklan pop up saat mengakses halaman websitenya

 

5. Proses Registrasi Panjang

Untuk bisa mendapatkan fitur tertentu pada suatu web pengguna seringkali harus melakukan registrasi terlebih dulu dengan cara mengisi form yang ada di web tersebut. Seringkali pengguna harus mengisi form dengan item isian yang banyak. Hal ini tentu menjadi kontraproduktif, justru menghambat pengguna untuk bisa menfapatkan fitur yang ditawarkan. Pengguna web tidak akan mau waktunya tersita dengan mengisi form namun tidak memberi manfaat langsung bagi mereka.

 

6. Cluttered Layout

Sebagian orang tidak menyukai bagian yang kosong pada halaman web, sehingga mereka mengisi bagian-bagian kosong yang ada di halaman web dengan apapun yang mereka anggap menarik. Mereka jejali bagian yang kosong dari halaman tersebut dengan grafis, teks, image sehingga kita temui banyak website dengan kondisi berantakan, jauh dari kesan rapi dan menarik.

Padahal bagian kosong ini yang juga dikenal dengan istilah whitespace/negative space adalah bagian penting dalam web design. Whitespace/negative space dibutuhkan dalam desain sebagai penyeimbang dari kehadiran elemen desain seperti teks, image dan grafis. Kurangnya whitespace/negative space menghasilkan web yang cluttered, tak terorganisir dengan rapi yang justru membuat pengguna tidak nyaman.

 

rumahmadani.com

Website ini tampak tidak rapi dan tidak harmonis diantara elemen-elemen desainnya, serta tidak hadirnya focal point yang bisa menarik perhatian pengguna.

 

Kesimpulan

Mengapa usability menjadi penting dalam proses web design, karena prinsip usability mengedepankan pengguna dalam penerapannya pada desain. Pengguna menjadi prioritas utama untuk tujuan yang akan dicapai dalam proses desain, yang sering disebut dengan user-centered design. Sehingga web design yang menerapkan prinsip usability akan menghasilkan web design yang membuat pengguna mudah dalam pemanfaatannya lagi efisien. Hal ini sangat erat kaitannya dengan keberlanjutan dari web itu sendiri dimana pengguna adalah target utama.Pengguna akan meninggalkan website tersebut atau tidak akan mengunjunginya untuk kedua kalinya bila dirasa sulit dalam pemanfaatannya atau menyita waktu mereka.